Saya lebih suka menyebut album yang akan rilis awal November ini adalah album kedua setelah yang pertama Trancesectional EP yang rilis tahun 2006. Walaupun jika berdasarkan jumlah rilisan resmi yang masuk diskografi maka album ini adalah rilisan Eyeliner yang ke 4 setelah 01.Trancesectional EP (2006), 02.Hidup Yang tak Berarti Single (2009), dan 03.The Song EP (2009). Lain lagi jika kita mendefinisikan album adalah LP (Long Play) yang dapat juga diartikan Full Album atau album penuh maka Erathania adalah album pertama karena 3 rilisan sebelumnya 2 diantaranya adalah EP (Extended Play) atau mini album dan satu diantaranya sebuah single.
Tetapi saya tetap lebih suka menyebut Erathania adalah album kedua setelah Trancesectional, saya lebih suka melihatnya dalam sebuah fase perjalanan waktu dan proses.
Fase Trancesectional adalah sebuah fase ‘kelahiran kembali’ dari Eyeliner yang selama 7 tahun (1998-2005) ‘hanya’ menjadi sebuah band indie biasa beraliran brit pop / brit rock yang pergi dari satu stage indie ke stage lainnya dengan modal mengkaver lagu-lagunya Morissey, Shed Seven, Radiohead, Placebo dll. Tak menghasilkan karya apapun baik EP, single apalagi LP (baca lagu sendiri) yang sempat dirilis selain beberapa lagu iseng-iseng yang menguap seiring berjalannya waktu.
Trancesectional adalah tonggak revolusi Eyeliner dengan format baru (tanpa drummer dan bassist), mengusung jenis musik baru dengan eksperimentasi lebih luas, memasukkan sampling2 elektronik dan sequencers serta lirik2 spiritual sehingga cenderung menuju ke darkwave.
Jika Trancesectional adalah fase ‘kelahiran kembali’ maka Erathania adalah fase selanjutnya yaitu fase ‘pengukuhan’. Pengukuhan bahwa Eyeliner benar-benar mampu bertahan hidup dan terus berkarya.
Proses yang cukup lama juga merupakan adaptasi bagi perubahan masing-masing personel yang mulai sibuk dengan pekerjaan sampingannya, Levi dan Subnet di WCS, Konstanta di INOTEK dan saya di BATAN. Selain itu juga Subnet, Konstanta dan saya yang mulai berkeluarga sehingga Erathania benar-benar merupakan adaptasi bagi Eyeliner. Bandingkan dengan fase Trancesectional dimana kami semua masih lajang, menganggur dan tinggal di satu atap kos-kosan, praktis saat itu hanya Subnet yang aktif di WCS.
Bagi saya Erathania adalah jawabannya. Jawaban bahwa Eyeliner mampu bertahan hidup, jawaban bahwa Eyeliner tetap bisa berkarya. Erathania juga sebuah jalan bagi karya-karya Eyeliner selanjutnya dimana Trancesectional adalah pintunya.
Secara teknis proses rekording Erathania dimulai sekitar Desember 2007 (sepulang saya dari Poso) terus menerus secara bergerilya sampai April 2009, dilanjutkan proses miksing (juga secara bergerilya) hingga September 2009.
Pemilihan kata ‘Erathania’ sebagai judul album pun sudah cukup lama, seperti Trancesectional, Erathania juga tidak memiliki arti secara definitif dari bahasa manapun juga, kami memaknai sendiri Erathania sebagai sebuah proses penyatuan ruh manusia dengan Tuhan (bercinta dengan Tuhan red.) ketika berada dalam kandungan.
Berikut adalah beberapa catatan saya terhadap list lagu di Erathania:
01. Rushing Through; Lagu bertempo moderate ringan yang membawa kami ke 30 besar LA Lights Indiefest 2008. Bagi yang sering melihat Eyeliner live maka cukup terbiasa dengan lagu ini karena sering dijadikan sebagai opening performance. Intro yang mengalun dan menghentak menaikkan semangat, hal inilah yang membuat saya dan Konstanta memutuskan lagu ini juga sebagai opening di Erathania.
02. Megaenigma I; Lagu ini adalah lagu yang lahir dari fase transisi antara Trancesectional dan Erathania. Masuk dalam kompilasi Shall We Go Now II lagu ini sempat mengudara di beberapa stasiun radio lokal Palu dan Poso (saya yang membawanya kesana pada pertengahan 2007). Smyth mengisi additional guitar di lagu ini. Dengan nuansa EBM lagu ini terasa mudah dicerna bagi telinga awam.
03. Hidup Yang Tak Berarti; Lagu ini adalah versi lain dari lagu ‘Siamese’, lagu yang lahir di fase Trancesectional namun tidak kami masukkan di Trancesectional EP. Belakangan setelah diganti liriknya serta beberapa suara sampling, lagu ini malah menjadi salah satu andalan kami dalam setiap performance. Dengan tempo lambat dan nuansa darkwave lagu ini mampu membawa suasanya kelam yang menusuk hati.
04. Sang Utusan; Awalnya lagu ini bukan lagu Eyeliner, ini lagu saya dalam demo Anasthavia (band saya sebelumnya red.). Levi dan Konstanta meminta lagu ini untuk Eyeliner karena kekuatan liriknya. Lirik yang provokatif jika dibaca secara singkat seolah-olah membawa pada kesesatan, namun jika dikaji lebih dalam lirik bergaya ironi ini sesungguhnya menceritakan kondisi manusia yang lupa dan terlena sehingga larut dalam kesesatan. Dengan sampling, aransemen dan miksing yang dirombak total menjadikan lagu ini jauh berbeda dengan versi Anasthavia.
05. Nothing Lasts Forever; Lagu yang sempat ‘terlupakan’, lahir seangkatan dengan rushing through di fase Erathania lagu ini awalnya berjudul Unmistakable Mistakes. Kami menganggap lagu ini aneh karena entah mengapa kami tidak pernah mendapatkan klik saat memainkannya sehingga kami sempat melupakannya. Proses rekordingnya juga aneh, karena awalnya kami main dari C tetapi kemudian diturunkan dari A menyesuaikan vokal Konstanta, dititik akhir beberapa riff dan melodi yang nadanya bertabrakan akhirnya diganti dengan sampling dari komputer.
06. Six Ways To Get; Lagu yang murni elektronik, bertempo lambat dan agak mellow ini memiliki nuansa yang sentimental dan emosional. Berkisah tentang penyatuan dua manusia demi melanjutkan kehidupan. Seorang teman berkomentar lagu ini punya warna yang mirip Kraftwerk di bagian intronya. Saya dan Konstanta menaruhnya di list ke 6 karena dimulai dengan kata ‘Six’ (ga penting red.)
07. The Song; Lagu bernuansa industrial ini tampil penuh dengan emosi dan kemarahan. Ada sedikit rasa Rammstein disini, atau malah Marilyn Manson? Saya sempat terharu pada ketika pertama kali lagu ini mulai kami mainkan saat rehearsal maupun di stage, ternyata vokalis saya bisa juga berteriak.
08. Trancesectional; Lagu fenomenal dari EP pertama kali, nuansa trance dengan distorsi gitar tebal membuat lagu ini berbeda dengan lagu lainnya. Kami memutuskan untuk memasukkan kembali di Erathania dengan alasan kontinuitas dan berbagi pada para pendengar Eyeliner yang belum sempat memiliki Trancesectional EP
09. One Sighted; Lagu yang juga lahir di fase Trancesectional. Bagi saya walaupun diawali dengan kata ‘One’ lagu ini selalu menjadi ‘yang kedua’ dibawah bayang-bayang Driven Slowly. Dua interlude guitar yang sama-sama berkarakter dari Subnet dan saya membuat salah satunya harus dipindah ke bagian intro lagu. Meskipun sempat masuk Trancesectional EP, dengan miksing ulang One Sighted kali ini hadir dengan suasana yang sangat berbeda.
10. Ten Kommandments; Lagu di list ke-10, lagi-lagi saya dan Konstanta menaruhnya disitu karena diawali dengan kata ‘Ten’. Memiliki lirik yang kuat dan dalam tentang kehidupan manusia, lagu ini termasuk lagu ‘keras’ Eyeliner selain The Song. Warna industrial metal terasa kental di lagu ini.
11. Megaenigma II; kami beri judul tersebut karena lagu ini samplingnya memiliki beberapa kesamaan dengan Megaenigma I, tempo dan karakternya pun mirip. Bagi saya walaupun tidak se’baik’ Megaenigma I lagu ini memiliki kesan yang dalam. Balutan nuansa pop yang kental membuat lagu ini mudah dicerna. Lagu ini sendiri sebenarnya bukan sequel dari Megaenigma I.
12. Average; adalah lagu pertama Eyeliner di awal ‘kelahiran kembali’ Kami memainkan pertama kali di Avantgarde sekitar awal tahun 2006 bersama dengan version dari Blue Monday dan I Wanna Be Adored. Seringkali lagu ini dijadikan klosing dalam setiap performance Eyeliner karena lagu ini mampu mengantarkan kami pada saat-saat klimaks di stage. Hal ini juga yang mengantarnya menjadi klosing di Erathania.
13. Kegelapan Surga (eMix); bonus track pertama ini adalah miksing ulang dari versi asli Kegelapan Surga yang membawa kami untuk kedua kalinya masuk ke 30 besar LA Lights Indiefest 2009. Dengan sampling yang sangat berbeda saya dan Subnet sempat bingung ketika dibawakan secara live.
14. Hidup Yang Tak Berarti (eMix); bonus track kedua ini juga merupakan versi lain dari Hidup Yang Tak Berarti , belakangan ketika live kami lebih sering membawakan versi yang ini. Nuansa kelam HYTB pun terasa lebih dinamis dengan sampling trance yang hadir.

